Why cv. Bina Alam?

Tell me, and I will forget, show me, and I may remember, involve me, and I will understand… Confucius

Survival and Success are belongs to Organizations that can effectively tap the dormant Human potential towards Creativity, Innovation and Team Synergy. New strategies and approaches are in constant demand. Dealing with Uncertainties, Managing Ambiguities and Pioneering Blue Ocean Strategies have become Managerial requirements. Outbound Experiential Training by cv. Bina Alam attempts to bring about a paradigm shift in Individual Behavior and Team Processes to integrate and synergies Individuals, Teams and Organizations in a Recurring Learning Cycle.

It also provides a platform for simulation of principles of Organizational Behavior and Management. While conventional training methods impart theories and principles of Organizational Behavior and Management, there is an ever increasing need for individuals and teams to get the opportunity to practically apply these principles in real life situations and learn from experiences.

cv. Bina Alam uses a unique blend of fun and adventure based team activities and the methodology of David A Kolb's Experiential Learning Cycle and other proven concept to bring about dramatic transformation in Teams. The focus is on what ‘Learning can we take away to the work environment at our Organization’ and 'How can we sustain our team in a Recurring Learning Cycle’. Each programmed is tailored to the training needs of the specific group.

Outward Bound Training
Our Outward Bound programs are based on a "development-by-challenge". We believed that Outward Bound was about training the mind through the body.

We provide the clients with challenging experiences in a supportive educational format so that everyone would develop inner strength, character and resolve.

We used the physical movement for training (from low, mediun to high impact), but the desired effect was very much psychological and social. Our philosophy revolved around the importance of helping participants to discover their true capabilities by impelling them into experiences that would help them to find their greater capacities. That's what experiential learning is all about.

We believe human endeavor knows no limits but many of us are not fully conscious of our true potential and capabilities. It is only when we venture out of our comfort zone and expose ourselves to the unfamiliar (as they may appear but nature friendly) situations, we realize how much the physical, moral and mental are reserves that we possess. We at
cv. Bina Alam initiatives, use tools that nature provides us in various forms such as mountains or rivers or lakes or valleys or trails, in order to make participants realize their hidden physical, moral and mental potential.

Indoor Training
It is recognized today that there is a need to continue training beyond initial qualifications to maintain, upgrade and update skills throughout working life. In the context of many professions and occupations, this may be referred to as professional development. Training and development always goes hand in hand to keep abreast with the fast pace of development. Bina Alam initiatives also impart indoor training as per client need, eventhough it is indoor we make it activity based to get the involvement of the participants and make it experiential learning.

Objective
The objective of our training programmes is to bring ‘Change’ in participants’ behaviour with new perspective by providing them with necessary skills required towards their profession and life-.

Safety
Safety is always our utmost concern and ensured at all times / cost.
Instructor to participant ratio is maintained at 1:10.
Doctor is in attendance for mediun to hard impact training like Rock climbing/Rappelling etc.

2.5.08

Kiat Bertahan Hidup di Alam Liar

OlehBudi Imansyah JAKARTA


Kiat hidup darurat adalah penting, dengan pengetahuan survival yang andal, seorang dapat bertahan pada waktu terjepit. Sebagian ilmu survival ini adalah pengetahuan tentang aneka “tumbuhan liar” yang layak dan aman untuk dimakan.


Menurut para ahli, 10% dari keseluruhan jenis tumbuhan berbunga di dunia ada di Indonesia. Artinya, kita memiliki kurang lebih 25.000 jenis tumbuhan berbunga. Jika ditambah dengan tumbuhan tak berbunga dan jamur, jumlahnya akan berlipat-lipat. Dari keseluruhan jenis tumbuhan itu ada yang beracun, ada yang bisa dimakan, dan ada yang disarankan untuk dimakan. Untuk mengetahui apakah suatu jenis tumbuhan di hutan aman atau tidak untuk dimakan ada beberapa faktor yang bisa dijadikan pegangan. Tumbuhan yang daun, bunga, buah, atau umbinya bisa dimakan oleh satwa liar adalah tumbuhan yang tidak beracun. Jadi, kita bisa mengonsumsinya. Sementara itu, tumbuhan yang berbau tak sedap dan bisa membuat pusing, serta tidak disentuh oleh binatang liar, sebaiknya jangan disentuh. Contohnya, tumbuhan bergetah yang membuat kulit gatal dianjurkan untuk dihindari.Tumbuhan lain yang perlu disingkirkan adalah tanaman yang daunnya bergetah pekat, berwarna mencolok, berbulu, atau permukaannya kasar. Tanaman dengan daun yang keras atau liat juga jangan dikonsumsi. Apabila mendapatkan tumbuhan kemaduh (Laportea stimulans) waspadalah lantaran bulu pada daunnya membuat kulit gatal dan panas.


Sementara itu, beberapa jenis tumbuhan yang mungkin ditemui di hutan dan dapat dimakan meliputi beragam jenis. Keluarga palem-paleman, misalnya; kelapa, kelapa sawit, sagu, nipah, aren dan siwalan, bukan hanya bagian umbutnya (baca; bagian ujung batang muda dan berwarna putih) yang bisa dimakan, tapi juga buahnya, seperti kelapa dan siwalan.Jenis jambu-jambuan yang masuk dalam keluarga Myrtaceae juga banyak dijumpai di hutan. Adapun ciri-cirinya, daunnya berbau agak manis jika diremas. Bunganya memiliki banyak sekali benang sari dengan buah yang enak dimakan. Tumbuhan semak dari keluarga begonia juga bisa menjadi penyelamat dalam keadaan darurat. Daun begonia umumnya berbentuk jantung tak simetris. Beberapa jenis dijadikan tanaman hias. Bila tangkai daunnya yang masih muda dikupas dan dimakan, rasanya masam dan sedikit pahit.


Beberapa jenis keladi umbinya bisa dimakan, meski pada jenis lain umbinya menyebabkan gatal di mulut dan bibir. Untuk itu dianjurkan untuk tidak sembarangan melahap keladi hutan. Sebaiknya dicoba dulu dalam jumlah kecil. Hindari makan iles-iles (Amorphophallus sp).


Arah LilitanTumbuhan merambat dan melilit di pohon lain bisa dimakan jika lilitan batang ke arah kanan (searah dengan jarum jam), di antaranya gembili (Dioscorea aculeate), gembolo (Dioscorea bulbifera), umbi rambat. Namun, bila arah lilitannya ke kiri (berlawanan arah jarum jam) dan batangnya berduri, haruslah ekstra hati-hati. Jenis kedua ini misalnya gadung (Dioscorea hispida), yang beracun, walaupun tetap dapat dimakan setelah melalui proses pengolahan terlebih dahulu.Sementara keluarga rumput-rumputan seperti tebu dan beberapa jenis bambu, rebungnya enak dimakan. Demikian pula pisang hutan bisa langsung dikonsumsi. Di tempat yang lembab dan tinggi, tunas dan daun muda jenis paku-pakuan enak dimakan. Tumbuhan lain yang buahnya juga bisa dimakan, misalnya markisa (Passiflora sp). Markisa ini tumbuhan merambat dengan bunga khas. Beberapa anggota keluarga sirsak (Annonaceae), misalnya Annona muricata, daging buahnya segar. Buah lainnya seperti senggani (Melastoma sp), arbei hutan (Rubus), dan anggur hutan.


Selain tumbuhan tadi, jamur pun bisa menjadi penyelamat di saat tersesat. Namun, kita harus bisa membedakan mana jamur yang biasa dikonsumsi dan jamur liar (beracun). Untuk menghindari makan jamur beracun, perlulah diketahui ciri-cirinya, yaitu warna payungnya gelap atau mencolok, misalnya biru, kuning, jingga, coklat. Pengecualian untuk jamur kuping dengan payung coklat itu bisa dimakan. Bau tidak sedap disebabkan mengandung asam sulfida atau amonia juga sekaligus menunjukkan jamur tersebut tak layak dikonsumsi. Dan jamur beracun umumnya tumbuh di tempat yang kotor, misalnya pada kotoran hewan.


Dengan berbekal ilmu survival, mudah-mudahan ini akan menjadi pegangan penting apabila kita menghadapi masalah di hutan. Yang terpenting, sebaiknya sebelum dimakan, tumbuhan liar di hutan dimasak dahulu untuk mengurangi dampak buruk, seperti diare dan alergi.


Apabila terjadi kasus keracunan, usahakan muntahkan sebisa mungkin, dan minumlah air kelapa atau bila ada gunakan “pil norit” untuk membantu mengurangi kadar keracunan.


Penulis pemerhati kesehatan lingkungan, tergabung dalam Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI).

Tidak ada komentar: